Cerpen : Cacing di dalam perutku

Blog Entry Cerpenku : Cacing Di dalam Perutku Aug 24, ’08 12:57 PM
for everyone

undefinedCacing di dalam perutku

Aku mencoba duduk dengan tenang, keringat mengalir satu persatu membasahi wajahku. Aku melihat dengan jelas wajah ibu yang memucat. Pikiranku melayang jauh, satu persatu bayangan peristiwa berputar kembali di dalam otakku. Sepertinya pita kenangan terbuka kembali.

Aku masih ingat pada satu sore ibu datang dan memberikan aku sebutir obat berwarna kuning muda. “Minum obat itu! Badan kurus, perut buncit, muka yang kotor dan perut yang tidak pernah kenyang, semua mengatakan itu adalah tanda-tanda anak yang cacingan” aku memandangi wajah ibu yang terlihat sangat galak.

“Seharian bermain dengan tanah, berkotor-kotor, mengigiti kuku yang jorok dan memunggut makanan yang jatuh bisa membuatmu cacingan. Kamu tahu, cacingan! Cacingan bisa membuat anak-anak menjadi bodoh, siapa tahu kamu bodoh karena cacingan. Setidaknya setelah cacing-cacing dikeluarkan dari perutmu mungkin akan terjadi sebuah keajaiban, walaupun hanya aku si bodoh yang bermimpi mendapatkan sepotong otak dari balik perutmu” aku segera menelan obat itu saat wajah ibu mendekat. Obat itu menyangkut di tenggorokanku, aku lupa menenggak air putih setelah memasukan tablet kuning. Wajah seram ibu saja sudah membuat aku lupa apa yang harus kukerjakan.

“Dasar anak bodoh!” ibu berteriak padaku dan kulihat adikku berlari dengan cepat membawakan segelas air putih. Akhirnya aku dapat menelan tablet itu dengan mulus. Wajah ibu selalu terlihat seram dan lelah. Matanya menyiratkan perjuangan dan kerasnya hidupnya. Guratan keriput menceritakan tangis yang mewarnai hidupnya.

Di awal tahun itu para orang tua disibukkan oleh iklan masyarakat yg memberitakan mengenai cacingan. Aku sering mendengar iklan itu di televisi “Apakah anak anda cacingan?” potongan iklan itu dijadikan bahan lelucon oleh anak-anak di komplekku.

Obat cacing yang ada pada tahun itu belum lagi canggih sehingga aku ingat betul perutku jadi mulas setelah beberapa hari meminum obat cacing itu. Berkali-kali aku bolak balik wc.

Sore saat adik dan ibuku ada di rumah, aku merenung di wc dan mengeluarkan isi perutku. Aku berteriak saat aku merasakan mahluk licin dan panjang berjuang keluar. Aku berteriak memanggil ibuku, airmata keluar dan aku melihat mahluk berwarna merah kecoklatan itu menggelepar di lubang toilet. Ibu berteriak dan membuka pintu wc. Dan mendapati aku yang meringkuk memandangi mahluk mengerikan itu. Aku memangis dan tidak habis pikir, mengapa ada mahluk menjijikan seperti itu di dalam perutku.

Ternyata prediksi ibu salah, otakku masih saja tidak beres setelah cacing itu keluar dari perutku. Malahan semakin banyak orang yang menertawai aku, berbisik-bisik saat melewati pagar rumah kami tempat di mana aku biasa berdiri dan memandangi orang yang lalu lalang, satu-satunya hiburanku.

Ibu tidak pernah membiarkan aku keluar selangkahpun dari halaman rumahku. Rumah tembok dengan pagar besi yang tinggi itu menggurungku terus menerus sejak aku kecil hingga kini. Ibu selalu menyembunyikan aku di sebuah kamar kecil yang gelap. Sebuah kasur tipis dan lampu kecillah yang menjadi isi istana kecilku. Kadang aku mencoba tersenyum dan mengucapkan salam ramah kepada orang-orang yang lewat. Aku bisa bicara tapi tidak ada yang mau berbicara denganku. Mereka menghindar dan tertawa cekikikan. Kadang aku mendengar mereka mengatakan kalau aku ini anak yang kurang satu ons.

Pernah aku bertanya kepada ibu “I..bu meleka bihang aku urang atu on, apa aretinya?” wajah ibu berubah menjadi merah. Matanya menatapku tajam.
“Kamu bertanya apa artinya? Untuk apa? Apakah otak kecilmu itu bisa mengerti?” ibu menarik tanganku dan menguncang-guncang badan kurusku ini.

“Dalam timbangan yang benar, 1 kilo itu tidak akan kurang sedikitpun. Dan kamu itu timbangan yang kurang, kamu itu cacat! Otakmu itu kurang, kamu itu bodoh, kamu itu idiot!” aku memandangi wajah ibuku, bibirku bergetar.
“Mengerti?” teriak ibu lagi. Aku melihat adikku meringkuk di balik daun pintu yang sudah banyak lubang. Aku tidak pernah mengerti apa arti ucapan ibu tapi yang jelas ada satu hal yang ku pelajari. Aku tidak boleh dan tidak akan bertanya mengenai hal itu lagi. Aku tidak ingin melihat amarah ibu dan air mata yang mengalir dari mata lelah itu lagi.

*******

Beberapa minggu yang lalu aku melihat ibu dan ayah bertengkar lagi. Mereka selalu bertengkar mengenai segala hal dan pada akhirnya ayah dan ibu akan menunjuk-nujuk wajahku dengan penuh amarah sedangkan aku harus tetap duduk menerima teriakkan mereka.

Aku merasakan perutku bergejolak dan berteriak. Aku terus menerus merasa lapar. Badanku lemas dan lelah. Aku merasakan hal yang aneh di dalam tubuhku. Aku masih suka mengigiti kuku-kuku dan bermain-main dengan tanah. Aku selalu ingat perkataan ibu mengenai cacing di dalam perutku. Apakah obat cacing yang dulu sudah tidak berfungsi lagi? Apakah cacing-cacing itu belum keluar semuanya? Masih adakah cacing di dalam perutku?

Aku merasakan cacing itu membesar di dalam perutku. Aku mendengar ucapan adikku yang sangat pandai. Dia selalu membacakan buku pelajarannya untukku. Aku tidak dapat mengingat semuanya tapi setidaknya ada beberapa yang dapat kuingat. Adikku selalu mengajari aku dengan pelan hingga aku mengerti.

Aku ingat aku pernah memintanya membacakan tentang penyakit cacing “Ada berbagai jenis cacing di dalam perut manusia, ada yang mudah di basmi dengan obat cacing yang dijual di pasaran ada juga yang begitu hebat dan mencengkram erat,” bacaan itu terhenti saat ibu berteriak dan memarahi adik yang duduk bersamaku.

“Apakah kamu mau menjadi orang idiot seperti dia?” wajahku kembali ditunjuk oleh ibu dan aku hanya tersenyum. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk ibu. Menahan semua amarah dan tersenyum dengan sepenuh hati untuk membalas kebaikan ibu. Apakah ibu tahu kalau aku dapat mengerti apa yang ibu ucapkan walaupun aku tidak sepintar adik?

**********

“Makanmu semakin banyak, ibu bisa bangkrut!” ibu membanting piring melamin yang baru selesai dicuci.
“Maaf,” jawabku pendek.
“Sepertinya ada cacing besar di dalam perutku yang terus meminta makan. Dan bila aku tidak makan cacing itu akan membuat aku sakit,” jawabku lagi. Ibu menatapku dengan mata membelalak.

“Cacing? Cacing apa?” teriak ibu tidak sabaran.
“Ibu lihat perutku, perutku semakin membesar, sepertinya cacing itu telah berkuasa atas perutku dan membuat aku terdesak,” Ibu menghampiriku dan menyibak baju kaosku. Matanya seakan meloncat keluar, dia menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.

“Mengapa? Kapan terakhir kali kamu datang bulan?” aku menatap ibu.
“Kapan kamu terakhir kali kencing darah?” nah ini aku baru tahu artinya, tapi aku tidak pernah ingat kapan terakhir kalinya aku mengunakan popok kecil yang merepotkan dan menahan sakit perut karena kencing darah itu.

“Perutmu membuncit!” teriak ibu. Aku menatap perutku, ya perutku memang membuncit. Ini pasti karena cacing di dalam perutku telah berkembang dengan pesat. Aku merasa ngeri saat membayangkan cacing itu akan berkuasa atas perutku dan memakan diriku hingga habis. Apakah nantinya cacing itu akan keluar dari mulutku? Membayangkannya saja sudah membuat aku takut.

“Siapa? Siapa yang melakukan hal ini?” tanya ibu dengan cemas, airmatanya keluar. Aku menjulurkan tanganku dan mencoba menghapus airmata itu. Tanganku ditepis ibu dengan kasar, matanya menatapku kesal.

“Siapa pria itu?” tanya ibu lagi.
“Ibu, kakak tidak pernah keluar dari rumah ini selangkahpun. Setiap hari dia terus menerus diawasi oleh kita. Oleh ibu, oleh aku dan oleh ayah,” ucap adikku.
“Jadi? Maksudmu?” ibu berubah menjadi bodoh.

********

Seisi ruangan menjadi senyap. Ibu duduk sambil mengenggam tangan adikku. Saat motor ayah memasuki rumah, ibu melompat dan menarik ayah segera masuk. Ibu menutup rapat pintu dan jendela rumah. “Katakan padaku kalau bukan dirimu yang melakukan ini,” ibu menyingkap bajuku memperlihatkan perutku yang membesar.

“Perut ayah juga sudah penuh dengan cacing,” aku menunjuk perut ayah yang buncit di balik kemeja yang basah oleh keringat.
“Diam!” ibu menampar wajahku. Sakit di pipiku terasa menjalar hingga ke ujung kakiku.

“Ayah membagikan cacing itu kedalam perutku. Lihat ayah! Perutku juga sudah seperti ayah,” aku terus mengoceh tanpa memperdulikan wajah ayah dan ibuku yang sudah berubah warna.
“Bulan lalu ayah mengatakan cacing ayah sudah terlalu penuh,” ucapanku terhenti oleh tamparan ayah.

“Jadi benar kamu, kamu pelakunya?” ibu memukuli ayah dengan sejadi-jadinya.
“Teganya, mengapa?” pertanyaan ibu membuat ayah terduduk.
“Sekarang, pikirkan jalan keluarnya, jangan hanya menyalahkan aku!” teriak ayah.

“Salahmu sendiri meninggalkan anak gadis delapan belas tahun idiot yang memintaku mengantikan pembalutnya setelah kamu melarangku menyentuhmu berpuluh-puluh tahun lamanya,” adikku menangis dan memelukku. Aku menepuk kepalanya seakan ingin memberinya kekuatan, namun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika masalah ini mengenai cacing di dalam perutku bukankah itu bukan hal yang rumit. Ibu tinggal memberiku obat dan mendesak cacing itu keluar dari perutku.

“Harus digugurkan. Aku tidak mau menanggung malu lagi,” ibu menatap ayah dan adikku.

*****

“Ibu, obat cacingnya sangat tidak enak,” aku memprotes saat ibu menyodorkan lagi semangkok obat untukku. Sudah seminggu ini aku menenggak bermangkok-mangkok obat cacing yang pahit. Tapi sepertinya cengkraman cacing ini sudah terlalu kuat, sangat sulit mendesak dia keluar dari perutku ini. Dan wajah ibu semakin cemas dari hari ke hari. Tapi aku gembira saat mengetahui ayah dan ibu sangat memperhatikanku.

Beberapa hari yang lalu ayah bahkan membawaku ke sebuah rumah gelap yang mengerikan. Wanita tua itu menekan perutku. Mendorong cacingku agar segera keluar dari perutku ini. Tapi sepertinya usahanya tidak begitu berhasil. Perutku menjadi sakit setelah itu. Aku juga tidak berani membantah saat ibu memberiku obat-obat pahit dan pijatan keras dari ayah.

Hari ini perutku terasa sangat sakit. Wajahku pucat dan kepalaku berputar-putar. Aku segera berlari ke wc. Saat aku terduduk di toilet aku merasakan ada yang mengucur deras. Aku melihat darah segar keluar dan memenuhi lubang toilet. Keringat bercucuran membasahi tubuhku. Darah-darah segar itu terus keluar dan sepertinya tidak akan berhenti begitu saja.

Aku merasakan sesuatu keluar dan terjatuh di lubang toilet. Aku menatap onggokan kecil itu. Bentuknya aneh, tidak seperti cacing kecil dulu. Aku berteriak “Ibu! Cacing penggacau itu sudah keluar!” kepalaku semakin pusing, badanku semakin lemas dan tak bertenaga. Sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki berlari. Kakiku telah lemas, aku tidak dapat berjongkok lagi akhirnya aku terduduk di lubang toilet.

Suara langkah kaki itu semakin dekat namun suaranya semakin tak terdengar. Ibu berdiri di depanku, wajahnya masih bisa kulihat jelas. Aku mendengar ayah berteriak girang, namun suaranya hanya sayup terdengar. “Syukurlah, kita selamat bu,” ayah memeluk ibu. Aku melihat adikku menatap kedua orang tuaku dengan sebelah pisau pendek tersembunyi di balik tangannya.

“Kakak harus dibawa ke dokter,” teriakan adikku sangat jelas kudengar, hanya suaranya yang terasa nyaman di telingaku.
“Tidak! Tidak boleh, pihak rumah sakit akan menanyakan ini itu. Mereka akan mengetahui kalau kakakmu mengugurkan kandungan,” ibu berteriak.

“Kakak tidak mengugurkan kandungan! Kalian memaksa dia, kamu telah memperlakukan dia dengan buruk dan berusaha menutupi kebejatanmu,” teriaknya.
“Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Apakah kamu mau ayah dan ibumu dipukuli dan dihukum?” ayah menguyur darah yang ada di lubang toilet dengan air dari bak mandi. Sedangkan ibu mengambil cacing itu dan membungkusnya dengan plastik hitam.

“Tapi kakak bisa meninggal kalau tidak segera mendapat pertolongan,” aku melihat adikku memelukku erat. Mataku semakin mengantuk, badanku semakin lemas, dan lelah.
“Tidak masalah kalau kakakmu meninggal, setidaknya beban ayah berkurang,” di antara mataku yang sudah menutup aku melihat jelas adikku menusuk ayah dengan pisau yang di sembunyikannya. Ibu berteriak dan berusaha menahan pisau itu. Saat nafasku terhenti aku merasakan detak jantung ayahku juga berhenti. Aku ingin mengatakan betapa aku menyayangi mereka, terutama adik perempuanku yang selalu menemani dan memarahi orang yang mengangguku.

Setidaknya aku tidak membuat ibu cemas lagi dengan cacing di dalam perutku ini. Ibu dan ayah cacing itu sudah keluar dari perutku. Dan bukankah aku ini anak yang baik.

*********

(*practice makes perfect)
Cat

1 Febuary 2008

Kunjungi aku di www.kemudian.com/user/cat

Singgah dan caci maki diriku ^o^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: