Iklan Koran Pagi

Iklan koran pagi

Tidak ada yang salah dengan koran pagi, masih saja dengan ukuran yang sama. Kolom-kolomnya pun masih berisi tema-tema yang tidak menarik. Tapi bagiku koran pagi ini berbeda. Setiap baris tulisan memperingatkan akan bahaya. Perasaan takut menghantuiku.

Namun rasa penasaran mengalahkan ketakutan, aku membalik halaman demi halaman. Menatap tiap barisan tulisan yang tercetak dengan jelas dan rapi. Seakan-akan tulisan itu garam yang menyiram lukaku. Luka yang belum lagi sembuh. Aku yakin tidak ada yang perduli dengan luka ini. Mereka akan menghakimi dengan cara mereka dan mampukah aku bertahan.

“Sudahlah, tenangkan dirimu,” suara Ray terdengar menyejukkan hatiku. Walaupun tidak dapat membasuh semua perih dan menutup luka.
“Sudah kucoba,” jawabku pelan.
“Demi aku, kalau tidak lakukan demi Dwayne,” aku menghela nafas panjang mendengar permohonan Ray.

“Hanya karena kalianlah aku bertahan saat ini. Dan karena kalianlah aku tetap berencana untuk hidup,”
“Jangan berkata seperti itu, dan jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Dalam 20 menit aku akan sampai,” Ray selalu ada dan memberiku kekuatan. Mataku menatap Dwayne yang asyik bermain. Telepon genggam yang sudah terdiam itu terlepas dari pegangan tanganku.

Dering telepon lagi, biarkan saja pikirku. Awen kecil melompat dan memberitahukan aku “Mah, pon a ,” tanganku meraih telepon genggam, mengecek nama yang tertera dan kembali mematikannya.
“Biarkan saja Wen, telepon yang tidak penting kok,” Awen tersenyum dan kembali menarik tanganku untuk menemaninya bermain.
—–
“Tidak selamanya kamu bisa bersembunyi sayang, kamu harus mampu menghadapinya,” Ray mengelus rambutku dan mulai memberikan ciuman hangat.

“Bukan tatapan dunia yang aku takutkan Ray, perasaan ditolak dan dibuanglah yang tak mampu aku hadapi. Aku tidak pernah menjadi bagian dari mereka, dan keberadaanku seakan-akan tidak pernah ada, koran hari ini menguatkan pendapatku. Tapi semua ini bukan salahku! Mengapa aku yang harus menanggungnya?” Ray terdiam, dia memang selalu kalah dalam hal berdebat dengaku. Aku selalu memiliki pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya.

“Aku tahu sayang. Kita akan menghadapi mereka, kamu memiliki aku dan Awen. Apakah itu tidak cukup?” Ray memberikan botol susu kepada Awen kecil.
“Aku … Kalian adalah harta yang berharga bagiku. Hanya saja semua itu adalah mimpi masa kecilku,” Ray mengangguk, dia selalu mengerti diriku dan selalu ingin memberikan yang terbaik.
“Aku akan berbicara dengan mereka. Harus ada tindakan nyata, kalau perlu, kita serang balik!” kepalaku mengeleng cepat. Dari tatapan mataku saja, Ray tahu kalau bagiku semua itu sia-sia.

“Kita pindah saja, aku akan minta di mutasikan ke cabang atau ke pabrik sekalipun,” Ray mencoba mencari cara. Awen menarik lenganku dengan manja.
“Awen tidak mungkin bisa berada di lingkungan pabrik dan aku tidak ingin jauh darimu. Apalagi posisimu di kantor sudah sangat bagus. Tidak, jangan membuang semua kerja kerasmu hanya karena ini.” Aku mencoba berpikir jernih.
—–
Keesokkan harinya Koran kemarin masih tergeletak di meja depan. Suara dering handphone kembali memanggilku dari lamunan panjang. Hari ini aku berjanji pada diriku sendiri dan Ray, aku akan menghadapi semuanya dengan tenang dan berani.

Saski langsung nyerocos tanpa menunggu aku mengucapkan kata halo “Kamu kan yang di Koran pagi kemarin! Kenapa kamu bisa begitu tega? Minta maaflah, sebagai yang lebih muda, hormatilah mereka. Dan bisa-bisanya kamu mencaci maki mereka?” dalam hati aku hanya berteriak apa yang kamu ketahui tentang semua cerita di balik koran pagi itu? Apakah kamu tahu? Apa hak kamu menghakimi aku?

“Aku tidak akan meminta maaf. Bukan kemauanku berada di tengah-tengah situasi itu. Aku sudah bertahan begitu lama. Mendengar, melihat, dan mencoba memperbaiki tapi hasilnya tidak berguna. Mereka memang sudah rusak, tidak ada gunanya lagi dipertahankan. Buang saja bagian yang sudah membusuk agar tidak menular ke bagian lain,”

Saksi mengucapkan sumpah serapah. Dia membanting telepon dan memutuskan sambungannya.
—-
Aku membuka akun facebookku dan ada 120 notification menunggu untuk dibuka. Aku melihat satu persatu. Isinya hampir sama, semua berharap aku segera sadar dan segera memohon ampun atas perbuatanku. Dan dari sanalah aku tahu kalau cerita yang berkembang telah keluar bahkan mengambil jalur yang sangat-sangat salah. Mereka menghakimi dengan sebelah pihak. Bukankah dulu aku pernah mempelajari bahwa ada yang namanya azas praduga tak bersalah.
———-
“Aku sudah dengar versi pertama, mau kamu ceritakan versimu?” Sam melepaskan sendalnya dan duduk dihadapanku. Aku diam dan hanya suara Awen yang membuat ruangan itu masih nyata.
“Kopi, teh, dingin, panas, manis, tawar” aku mengoceh tak karuan.
“Duduk! Dan ceritakan versimu,” Sam mengendong Awen dan memberikan sebuah mainan baru. Ray, aku sungguh berharap tidak perlu berpura-pura kuat dan tegar, aku berharap kamu berada disisiku sekarang. Walaupun aku tahu saat ini kamu tidak bisa pergi dari pekerjaan yang telah kamu tinggalkan seharian kemarin.

“Dia yang salah bukan aku. Sudah kukatakan pada wanita itu kalau pria brengsek yang dia sebut sebagai suami itu adalah pria busuk. Dia masih saja mempertahankannya. Aku lelah mendengar dia mengoceh tentang suaminya yang berengsek, tentang penderitaanya, semua pengorbanannya untuk bertahan dalam ikatan yang namanya pernikahan dan aku muak saat dia menceritakan betapa bejat suaminya. Namun pada saat bersamaan dia merindukannya, wanita itu masih berharap dan terus berharap. Wanita bodoh itu menyalahkan aku tidak perduli pada penderitaanya. Apa hak dia? Hanya dia kah yang menderita? Pergilah ke neraka dan menarilah di sana,” aku menjaga agar suaraku tetap datar. Getar tangis terus kubelenggu dengan erat.

“Tapi tidak berarti kamu berhak berbuat tidak sopan terhadap mereka,” Sam menyeruput air mineral gelas yang masih tersisa setengah.
“Mau menjenguk dan meminta maaf? Siapa tahu laporan itu akan dicabut?” Sam mengetuk-ngetuk pinggiran meja tamuku.

“Sampaikan salamku saja. Sayang sekali dia tidak segera bertemu malaikat,” aku menarik Awen yang mulai rewel.
“Pikikan nasib Awen. Mungkin kamu mampu hidup terkucilkan, tapi apakah dia mampu? Mungkin kamu mampu bertahan di sel, tapi apakah Awen bisa hidup tanpamu? Bisa saja kamu cuek dengan bisik-bisik tetangga, namun apakah Awen kecil mampu saat teman-temannya nanti mengatakan kalau ibunya adalah penjahat?” ucapan Sam membuat otakku tersentak. Mataku merah dan tak mampu bertahan lagi.

“Sam Hia, aku melihat dia bersama wanita gatal. Aku memergokinya. Saat dia pulang ke rumah, mendaratkan tangannya di pipiku dan dengan sombongnya mengatakan aku anak haram. Aku katakan pada wanita tua itu, buanglah pria brengsek ini, apa lagi yang kau harapkan dari dia. Semakin lama kau menunggu semakin cepat kamu mati karenanya. Dia akan membunuh dengan cara membuat kamu stress, perlahan tapi pasti. Buang suamimu atau aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi,” nafasku mulai panik. Semua kekuatanku hilang berganti emosi.

“Mengapa tidak kau diskusikan dahulu dengan kami?” Sam menatap langit-langit.
“Dimana kalian? Apa kalian perduli? Saat ada masalah, akulah yang kalian salahkan. Mengapa tidak melapor, mengapa tidak berdiskusi, mengapa tidak ini tidak itu. Coba tanya pada diri kalian sendiri, mengapa kalian tidak mencari tahu?” aku mengendong Awen dipinggang dan mendendangkan nyanyian twinkle-twinkle little star.

“Jawabannya adalah karena kalian tidak mau repot. Yah kan!” aku mulai mendapatkan kekuatanku kembali. Awen kecil memberikan ciuman padaku. Dia tidak pernah mengerti, dan aku berharap dia tidak perlu terluka.
“Jangan menimpakan kesalahan pada kami! Aku hanya mencoba membantu,mencoba mendapatkan solusi,” Sam mulai terlihat kesal.

“Saat ini dia terbaring di rumah sakit. Minta maaflah dan kami akan membantu agar semua kembali normal,” Sam menepuk pundakku.
“Dia mencoba menghajar aku, tanpa perduli Awen dalam gendonganku. Apa yang kau perbuat kalau Claris dalam situasi Awen? Mengapa dia tidak menceritakan secara detail? Aku tidak ingin mempermalukan dia, pihak Koran sudah menghubungi aku dari kemarin pagi, aku memilih untuk diam,” teriakku.

“Kamu tahu kalau dia sedang mabuk, tapi kau menghajar dia sampai ..” Sam menahan ucapannya, seakan terlalu berat lidahnya melafalkan kata-kata menjadi sebuah kalimat.
“Aku mencoba membela diri. Bukan salahku kalau botol bir milik dia dan teman-temannya yang berada dalam jangkauanku. Saat temannya mencoba melecehkan aku, dia hanya menutup mata dan memekakkan telingga,” sebuah fakta yang mereka coba tutupi aku lemparkan kehadapan Sam Hia.

“Pokoknya urusanmulah, aku akan meminta dia menarik laporan itu. Demi Awen, bukan demi kamu,” teriak Sam. Ternyata sam dan Saski sama saja. Mereka satu darah tapi tidak penah merasakan penderitaan darahku.
—-
Sorenya saat Ray pulang dari kantor, aku baru tahu kalau dia mempersiapkan sebuah solusi. “Sayang, aku dimutasikan ke Singkawang. Kita terima saja yah,” aku akhirnya menyerah dan memilih melarikan diri.
“Ya, kita pindah saja Ray, terima kasih yah. Kamu memang yang terbaik,” Ray mengambil Koran kemarin, lalu melemparkan ke tong sampah.

Aku melihat angin membukakan halaman kedua “Seorang anak tega memukuli bapaknya dengan botol bir” Dan disudut kiri bawah,di kolom iklan ada iklan yang berbunyi :
Pemutusan hubungan :
Dengan ini diberitahukan bahwa Sdr. Sabrina Kam tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan keluarga bapak Jansen Kam. Segala sesuatu yang berkaitan dengan tindakan pada saat ini maupun di masa akan datang tidak ada sangkut pautnya lagi dengan keluarga Bapak Jansen Kam.

Dengan ini diberitahukan bahwa sdr. Sabrina Kam bukan lagi anak dari bapak Jansen kam.
Terima kasih. Tertanda Bapak Jansen kam dan keluarga.

Aku melihat dan merasa lucu, ternyata hubungan darah yang begitu kental itu dapat diputuskan hanya melalui Koran.

Ray dan Awen kecilku, inilah keluarga baruku. Akan ku jaga mereka dengan segenap jiwa ragaku. Walau dalam hati kecilku aku berharap Awen dapat memiliki kakek dan nenek dari sebelah ibunya.
Mungkin nanti Awen, saat mereka telah sadar dan bebas dari sifat kekanakan mereka. Kita lari bukan berarti kalah, hanya mempersiapkan serangan berikutnya. Aku tersenyum puas, dan meninggalkan koran pagi itu.

…….

Pontianak, 2 mei 2010.
Catz
Practice makes perfect.

1 Komentar »

  1. sese Said:

    ceritamu membuat ku makin mengerti bahwa dukungan keluarga sangat berati…yang tegar ya. kebenaran selalu menang.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: