Cerita Emak : Celoteh Anak

Celoteh Anak.

kenzie dan kazuo
( ~ _ ~ ) Hiiii Emak Catz datang lagi.

Kan Emak ini adalah seorang gembala (ngawur). Emak adalah emak dari dua bocah, jagoan cilik. Satu bernama Kenzie, berusia 5 tahun 5 bulan dan Kazuo yang akan berusia 2 tahun tanggal 27 Febuari ini (jangan lupa kirimin kado untuk Emaknye yaaah). Nah kali ini Emak ingin membahas mengenai celoteh anak.

Kalau si Kenzie, sejak kecil dia sudah rame. Apalagi ampe sekarang. Dia sudah mulai berbicara sebelum berusia satu tahun. Kenzie sangat ceriwis juga kritis. Bertanya mengenai berbagai hal. Hati-hati dah, jangan ampe salah bicara. Apalagi ngomongin orang atau ngerumpiin hal-hal yang nyerempet ndak baik. Dia bakal mengintrogasi dari a ampe z, ampe dia merasa puas.

Maka dari itu para orang tua harus pinter-pinter menjaga pembicaraan juga mampu menjelaskan berbagai hal yang ditanyakan anak dengan bahasa sederhana namun jelas dan tepat.

Kemudian beralih ke Kazuo.

Nah si Kazuo kecil ini bener-bener bikin Emak ketar-ketir cemas deg-degan plus takut.

Jaman bahula tuh kan ada semacam nyanyian atau dendang dari orang tua dalam bahasa tio ciu yang seperti ini bunyinya :

“Jit, co. Pot, pe. Kauw ai gweek huat ge.”

Artinya : “Tujuh, duduk. Delapan, merangkak. Sembilan bulan tumbuh gigi.”

Ini semacam pedoman tidak langsung untuk diriku, yang sering mendengar nenek, juga tuai (tante) mendendangkan. Lalu apa hubungannya dengan Kazuo?

Kazuo kecil saat usia belum mencapai 15 bulan, giginya sudah lengkap semua. Kemudian usia 14 bulan baru mulai belajar berjalan. Si Kecil ini memang lebih lama pemanasannya dibanding si Abang (bukan bermaksud membandingkan yah. Cuma sebagai contoh. Ya elaaah sama ajaaaaa kali).

Nah masalahnya, sampai usia 15 bulan si Kazuo ini tidak juga mau mengikuti bunyi-bunyian yang kami ajarkan. Tidak mengucap sepatah kata “Mama” “Papa” atau kata-kata lain. Gilaaa, Emak jadi cemas kuadrat.

Jadi pada saat imunisasi, kami pun berkonsultasi dengan dokter-dokter. (Yah, Emak pergi ke beberapa dokter).

Ada seorang dokter yang menyarankan untuk melakukan terapi bicara pada anak tersebut.
Ada pula dokter yang memberikan vitamin untuk perkembangan otak.
Ada pula beberapa dokter (dr. Julius, dr. Linardi, dr. Charles dan dr. Lina) yang meminta kami untuk tidak cemas. Perkembangan tiap anak berbeda menurutnya. Ada anak yang lebih cepat berjalan, tumbuh gigi, berbicara ataupun dalam hal lainnya. Hanya saja, sebagai orangtua kita harus tetap memantau serta mengajak si kecil untuk berkomunikasi.

Menurut dr. Linardi, melahirkan seorang anak, orangtua harus menjadi orang gila selama setidaknya 5 tahun. Dalam artian, sebagai orangtua kita harus terus berceloteh seperti orang gila. Meski kadang kala si anak atau balita tidak mengerti atau menanggapi celoteh kita. Melalui mainan-mainan si kecil kita bercerita. Mengajaknya mengikuti ucapan, meniru serta berkembang.

Dari dr. Lina sebuah cerita dia bagikan. Anaknya yang ke dua, juga sama seperti Kazuo. Hingga usia 22 bulan masih enggan berceloteh. Dia mengajarkan trik yang dipakainya untuk mengajari si kecil. Setiap hari setidaknya harus menyempatkan sepuluh menit hingga lima belas menit selama beberapa kali untuk melatih si kecil.

Bawa si Kecil di depan cermin kemudian letakkan jemari di bagian dagu dan mulailah ajak dia berbicara. Dimulai dengan satu kata yang sederhana. Misalnya “Mama.” Lakukan berulang hingga si kecil mau mengikuti.

Tips berikutnya adalah dalam percakapan dengan si Kecil, gunakan satu bahasa dulu. Misalnya bila mau menggunakan bahasa Indonesia maka seisi anggota keluarga harus menggunakan bahasa Indonesia pada si kecil.

Keseimbangan makanan juga perlu untuk menunjang perkembangan otak dan tubuh si Kecil. Jadi rajin-rajin lah memasak makanan sehat untuk si Kecil.

Dan puji Tuhan, Kazuo sudah semakin rajin berceloteh. Walaupun, ucapan pertamanya bukan “Mama” tapi “Ai” — yang berarti Tante. Soalnya si Lau I (Nenek Tante), memanjakan si kecil.

Dan sekarang Kazuo sudah mulai menambah kosakatanya. Apalagi pas imlek ini. Dia dengan nyaringnya menyebut “Kuda” pada gambar kalender kuda.

“Papa, Mama, Ahia, Ai, ga jah, dogi, mauw, mam, nyam, kuwaga (tu wa ga) dll.”

Satu lagi. Demi alasan apapun itu, jangan pernah membiasakan berbicara dengan anak kita dengan di-pelat-pelat-kan alias mengikuti pengucapan si kecil yang tidak sempurna. Si Kecil akan mencontoh dan pada akhirnya nanti hasil yang keluar, si kecil susah keluar dari kepelatan alias ketidak sempurnaan kata meskipun terasa so sweet dan imyuuuut.

Naaaah sampai jumpaaa di lain kesempatan yaaah.

(♥ε♥ʃƪ) lopee lopee dari Emak Catz.

*Pontianak, 19 Febuari 2014.

#desahEmakCatz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: